Artikel 28 May 2026

Asistensi Mengajar UM: Membangun Kreativitas melalui Pembelajaran Seni Budaya Berbasis PjBL

34 kali dibaca
28 May 2026, 07:44 WIB
Asistensi Mengajar UM: Membangun Kreativitas melalui Pembelajaran Seni Budaya Berbasis PjBL

Program Asistensi Mengajar menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Selama kurang lebih empat bulan berada di MTsN 2 Kota Malang, kami tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan materi di depan kelas, tetapi juga belajar memahami karakter peserta didik, mengelola kelas, serta menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu kami temui selama perkuliahan.

Dalam program ini, mahasiswa yang terlibat berasal dari beberapa program studi, yaitu Pendidikan Seni Rupa, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Inggris, serta Bimbingan dan Konseling (BK). Kehadiran mahasiswa dari berbagai bidang tersebut membuat proses asistensi mengajar menjadi lebih beragam karena setiap program studi memiliki pengalaman dan pendekatan pembelajaran yang berbeda.

Kegiatan asistensi mengajar dilaksanakan mulai tanggal 11 Februari 2026 hingga 22 Mei 2026. Pada hari pertama pelaksanaan, kami diantarkan secara langsung ke sekolah oleh dosen pembimbing lapangan. Khusus untuk mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, kami dibimbing oleh Abdul Rohman Prasetyo, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, guru pamong yang mendampingi kami selama kegiatan berlangsung adalah Ferika Mandanti, S.Pd.

Hari pertama asistensi menjadi momen yang sangat berkesan. Pada tanggal 11 Februari 2026, kami diantarkan secara langsung ke sekolah oleh Prof. Dra. Nunung Suryati, M.Ed., Ph.D. Hari pertama menjadi momen yang cukup menegangkan sekaligus menyenangkan. Kami datang dengan rasa gugup karena akan menghadapi lingkungan dan pengalaman baru, tetapi juga merasa antusias untuk mulai belajar langsung di dunia pendidikan.

Kesan pertama saat datang ke MTsN 2 Kota Malang menjadi pengalaman yang sangat membekas bagi kami. Kedatangan kami disambut dengan hangat dan ramah oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta para guru. Tidak hanya memberikan arahan mengenai kegiatan di sekolah, mereka juga membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari lingkungan sekolah. Suasana yang terbuka dan nyaman membuat proses adaptasi berjalan lebih mudah sehingga kami tidak merasa canggung saat memulai kegiatan asistensi mengajar.

Mengajar Komik dengan Pendekatan Project Based Learning

Dalam kegiatan akademik, kami berkesempatan mengajar mata pelajaran seni budaya materi komik untuk kelas 8 menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Proses pembelajaran dirancang agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga aktif berkarya, berdiskusi, dan mengembangkan kreativitas mereka.

Sebelum pembelajaran dimulai, kami menyusun modul ajar serta media pembelajaran berbasis teknologi. Media yang digunakan meliputi PowerPoint interaktif, video instructional, permainan edukatif menggunakan platform Wordwall, hingga asesmen sumatif digital melalui ZEP Quiz. Penggunaan media berbasis teknologi ini menjadi salah satu cara untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan dekat dengan keseharian peserta didik.

Saat pembelajaran berlangsung, kami memaparkan materi sambil mengajak peserta didik berdiskusi secara aktif mengenai komik, mulai dari pengertian, unsur-unsur, hingga contoh komik yang mereka ketahui. Proses belajar dibuat berpusat pada peserta didik (student centered learning), sehingga mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat dalam bertanya, berpendapat, dan menyampaikan ide. Setelah itu, peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membuat moodboard sebagai tahap awal pengembangan ide komik mereka. Kegiatan ini melatih kemampuan kolaboratif dan kreatif peserta didik dalam menuangkan gagasan visual.

Tahap berikutnya adalah menggambar komik secara berkelompok. Pada proses ini, kami melihat bagaimana setiap peserta didik memiliki cara berpikir, gaya menggambar, dan pembagian tugas yang berbeda. Ada yang aktif membuat sketsa, menentukan alur cerita, mewarnai, hingga membantu anggota kelompok lain yang mengalami kesulitan. Di akhir pembelajaran, karya mereka dipresentasikan melalui mini gallery dan dilanjutkan dengan kegiatan apresiasi serta refleksi bersama.

Antusiasme peserta didik selama pembelajaran menjadi salah satu pengalaman yang paling membahagiakan bagi kami. Banyak peserta didik yang aktif bertanya, bersemangat saat membuat karya, dan menikmati proses belajar yang lebih interaktif. Meski demikian, tentu terdapat berbagai kendala selama proses pembelajaran, seperti peserta didik yang sulit fokus, kurang percaya diri terhadap hasil gambar mereka, atau anggota kelompok yang belum dapat bekerja sama secara maksimal. Dari situ kami belajar bagaimana mengelola kelas, membangun komunikasi yang baik, serta mencari solusi agar pembelajaran tetap berjalan kondusif dan menyenangkan.

Pengalaman mengelola kelas menjadi tantangan tersendiri. Kami belajar bahwa mengajar membutuhkan kesabaran, ketegasan, dan kemampuan memahami situasi kelas dengan cepat. Tidak jarang kami harus menyesuaikan strategi pembelajaran agar peserta didik tetap terlibat dan nyaman selama kegiatan berlangsung. Namun, di balik tantangan tersebut, ada rasa bangga ketika melihat peserta didik mampu menyelesaikan karya mereka dengan penuh percaya diri dan menunjukkan perkembangan selama proses belajar.

Salah satu hal yang paling membekas adalah kesan dan pesan dari peserta didik kepada kami. Sapaan hangat, candaan sederhana di kelas, hingga ucapan terima kasih dari mereka menjadi bentuk apresiasi kecil yang sangat berarti. Dari sana kami menyadari bahwa hubungan antara guru dan peserta didik dapat menjadi pengalaman yang saling menguatkan dan memberikan dampak positif satu sama lain.

Belajar Berkarya di Luar Kelas

Selain kegiatan akademik, kami juga terlibat dalam kegiatan non-akademik di bidang seni. Kami membantu membuat properti tari tradisional untuk kegiatan milad sekolah dan wisuda kelas 9. Proses ini menjadi pengalaman yang menyenangkan karena kami dapat berkolaborasi langsung dalam suasana yang lebih santai sekaligus tetap produktif. Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa seni memiliki peran penting dalam mendukung berbagai kegiatan sekolah dan membangun semangat kebersamaan.

Melalui program asistensi mengajar ini, kami belajar bahwa dunia pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang proses tumbuh bersama. Kami belajar menjadi lebih sabar, lebih komunikatif, lebih kreatif, dan lebih menghargai setiap proses yang terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas.

Terima kasih kepada MTsN 2 Kota Malang atas kesempatan, pengalaman, dan pembelajaran yang begitu berharga. Terima kasih kepada seluruh guru, peserta didik, dosen pembimbing lapangan, serta guru pamong yang telah membimbing dan menerima kami dengan hangat selama program berlangsung.

Semoga pengalaman ini menjadi langkah awal untuk terus berkembang sebagai calon pendidik yang tidak hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga dengan hati. Karena pada akhirnya, setiap ruang kelas selalu menyimpan cerita, pembelajaran, dan kenangan yang akan terus tinggal dalam ingatan.

Bagikan Berita Ini:

Dapatkan Update Berita Terbaru

Isi email Anda untuk menerima notifikasi berita terbaru dari MTsN 2 Kota Malang.

Komentar

Kode keamanan berupa angka

Komentar akan tampil setelah disetujui moderator.

Belum ada komentar.